Makassar, 10 Maret 2025 – Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial semakin menjadi perbincangan, terutama di kalangan generasi muda. Melihat fenomena ini dari perspektif Maqāṣid Syarīʿah, Nurul Lutfiah Sultan, mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dari Program Studi Dirasah Islamiyah, Konsentrasi Syariah dan Hukum Islam, mengangkatnya sebagai topik penelitian tesisnya.
Dalam sidang yang digelar pada Senin, 10 Maret 2025, Nurul memaparkan temuannya terkait dampak flexing di media sosial terhadap mahasiswa UIN Alauddin Makassar serta bagaimana fenomena ini ditinjau dalam kerangka Maqāṣid Syarīʿah.
Hasil Penelitian
Dengan menggunakan metode penelitian lapangan (field research) di lingkungan UIN Alauddin Makassar, penelitian ini melibatkan 10 mahasiswa Pascasarjana dan 8 perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta hasil survei terhadap 39 mahasiswa lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
- Fenomena flexing cenderung lebih banyak membawa dampak negatif dibandingkan manfaatnya. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa flexing dapat berujung pada penipuan, korupsi, bahkan tindak kriminal yang ekstrem.
- Respon mahasiswa terhadap fenomena ini beragam. Sebagian merasa terganggu dan menganggap flexing dapat memicu rasa insecure, perbandingan sosial, riya, dan hasad, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai motivasi untuk meraih kesuksesan.
- Dalam perspektif Maqāṣid Syarīʿah, flexing bertentangan dengan nilai-nilai Islam, terutama dalam menjaga harta (hifz al-Mal), akal (hifz al-Aql), dan moral sosial. Islam mengajarkan kesederhanaan dan kehati-hatian dalam menggunakan harta agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial atau praktik yang bertentangan dengan ajaran agama.
Implikasi Penelitian
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menggunakan media sosial secara bijak. Beberapa rekomendasi utama dari penelitian ini meliputi:
- Pendidikan Literasi Digital Islami untuk membangun kesadaran tentang etika dalam bermedia sosial sesuai dengan ajaran Islam.
- Kampanye Kesederhanaan di kalangan mahasiswa agar lebih mengedepankan nilai-nilai moral dan kesyukuran daripada sekadar pamer pencapaian materi.
- Regulasi dan Pengawasan dari institusi pendidikan serta orang tua untuk mencegah dampak buruk flexing terhadap psikologi dan perilaku sosial mahasiswa.
Setelah sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis, Nurul Lutfiah Sultan dinyatakan lulus dengan revisi. Tesis ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, pendidik, serta pembuat kebijakan dalam menyikapi fenomena flexing di era digital agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam dan prinsip Maqāṣid Syarīʿah.