(Kontributor: Djody Firmansyah, Photo: Henri Badawi)
Wajo, 9 Agustus 2026 —
Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, dalam rangka *Pengabdian kepada Masyarakat*, bekerja sama dengan Ma’had Aly As’adiyah Sengkang menggelar Seminar dengan tema: *“Ekoteologis dalam Islamic Studies: Perspektif Al-Qur’an dan Hadis”* di Aula Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Ahad (9/8/2026).
Seminar ini menghadirkan sejumlah akademisi UIN Alauddin Makassar dan pimpinan Ma’had Aly As’adiyah Sengkang. Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik untuk membahas hubungan antara ajaran Islam, tanggung jawab manusia sebagai khalifah, serta upaya menjaga kelestarian lingkungan berdasarkan perspektif Al-Qur’an dan hadis.
Kegiatan diawali dengan sambutan Mudir Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, AG. Drs. KH. M. Idman Salawe, M.Th.I. Dalam sambutannya, beliau menguraikan sejarah berdirinya Ma’had Aly As’adiyah sekaligus menjelaskan hubungan sanad keilmuan yang terjalin antara Ma’had Aly As’adiyah dan UIN Alauddin Makassar.
Menurutnya, hubungan kedua lembaga tersebut tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga menjadi bagian dari kesinambungan tradisi keilmuan Islam. Ia menekankan pentingnya memperkuat silaturahmi, munasabah, dan kerja sama kelembagaan melalui MoU, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengembangan akademik.
Sambutan berikutnya disampaikan Prof. Dr. Muhammad Yahya, M.Ag., Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Ia menjelaskan eratnya hubungan antara UIN Alauddin Makassar dan keluarga besar As’adiyah Sengkang-Wajo.
Ia juga menilai tema ekoteologi sangat relevan dengan tantangan kehidupan saat ini. Persoalan lingkungan, menurutnya, perlu menjadi perhatian lembaga pendidikan Islam, termasuk perguruan tinggi keagamaan dan Ma’had Aly. Pendidikan Islam dituntut tidak hanya menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Selanjutnya, Dr. Ramsia Tasruddin, M.Si., memperkenalkan UIN Alauddin Makassar, khususnya program pendidikan Pascasarjana. Ia menjelaskan berbagai pilihan program studi pada jenjang Magister (S2) dan Doktor (S3) serta mekanisme pendaftaran, baik melalui sistem pembelajaran daring maupun luring. Informasi tersebut diharapkan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa dan mahasantri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan istirahat dan foto bersama sebelum memasuki acara utama seminar.
*Ekoteologi sebagai Tanggung Jawab Kekhalifahan*
Sesi utama seminar dipandu oleh Dr. H. Muhammad Irham, M.Th.I., Sekretaris Jurusan Ilmu Al-Qur’an Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Pemateri pertama, Prof. Dr. Muhammad Yahya, M.Ag., menjelaskan bahwa ekoteologi dalam perspektif Al-Qur’an berkaitan erat dengan prinsip al-Mīzān, yakni keseimbangan. Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi.
Ia mencontohkan berbagai tindakan sederhana yang mencerminkan kepedulian ekologis, seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan dan kesucian lingkungan, serta memelihara ekosistem.
“Manusia adalah khalifah di muka bumi,” menjadi salah satu pokok penekanannya. Sebagai khalifah, manusia tidak diberi kebebasan untuk mengeksploitasi alam secara tidak terbatas, melainkan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengatur kehidupan secara seimbang.
Menurutnya, menjaga lingkungan juga berarti menjaga keberlangsungan makhluk hidup lainnya. Lingkungan yang bersih dan terpelihara akan mendukung keberlangsungan ekosistem, termasuk kehidupan hewan dan tumbuhan.
*Ekoteologi Harus Diwujudkan dalam Tindakan*
Pemateri kedua, Dr. Andi Abdul Hamzah, Lc., M.Ag., Ketua Jurusan Dirasah Islamiyah Program Magister UIN Alauddin Makassar, menekankan bahwa ekoteologi merupakan hubungan antara Allah, manusia, dan alam.
Ia menjelaskan bahwa alam merupakan amanah Allah Swt. yang harus dijaga. Manusia bukan pemilik mutlak alam, tetapi hanya menerima titipan untuk mengelola dan memeliharanya.
Karena itu, ia mendorong para mahasantri agar tidak berhenti pada pemahaman teoritis terhadap ayat Al-Qur’an dan hadis. Pengetahuan keagamaan harus direfleksikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyoroti persoalan sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perubahan perilaku dan kesadaran, bukan sekadar pengetahuan.
Dr. Andi Abdul Hamzah juga mengaitkan kepedulian lingkungan dengan larangan isrāf, atau sikap berlebih-lebihan. Salah satu contohnya adalah penggunaan air ketika berwudu yang seharusnya dilakukan secara secukupnya dan tidak berlebihan.
Selain itu, ia mendorong kegiatan menanam pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan. Menanam pohon bukan sekadar kegiatan formalitas, tetapi dapat menjadi bentuk amal yang memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya.
Ia kemudian menekankan pentingnya membangun konsep “Pesantren Hijau”, yaitu pesantren yang mampu mengintegrasikan lingkungan yang asri, bersih, dan terjaga dengan kehidupan religius serta pembentukan akhlak. Menurutnya, konsep tersebut harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.
*Tauhid sebagai Dasar Ekoteologi*
Pemateri ketiga, Prof. Dr. Laode Ismail Ahmad, M.Ag., Ketua Jurusan Ilmu Hadis Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, memberikan sintesis terhadap pembahasan ekoteologi dari perspektif tauhid.
Menurutnya, ekoteologi dapat ditempatkan sebagai bagian dari akidah, karena berangkat dari keyakinan bahwa seluruh alam merupakan ciptaan Allah Swt. Dengan demikian, tauhid menjadi inti dari ekoteologi.
Ia merumuskan sejumlah prinsip penting. Pertama, tauhid menempatkan Allah sebagai pusat pandangan hidup. Kedua, menjaga bumi merupakan bagian dari pelaksanaan amanah. Ketiga, kerusakan lingkungan tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kerusakan moral dan spiritual manusia. Keempat, perbaikan lingkungan harus dimulai dari perbaikan diri dan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dalam pemaparannya, ia menggambarkan hubungan konseptual tersebut melalui rangkaian:
Tauhid → Amanah → Khilafah → Rahmah → ‘Adl → Ihsan → Maṣlaḥah → Sustainability → Ecological Civilization.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa tauhid seharusnya melahirkan kesadaran tentang amanah dan kekhalifahan manusia, kemudian diwujudkan dalam kasih sayang, keadilan, ihsan, kemaslahatan, keberlanjutan, hingga terbentuknya peradaban ekologis.
Pada bagian akhir, Prof. Laode menegaskan pentingnya posisi mahasantri sebagai agen penjaga lingkungan. Menurutnya, mahasantri perlu memperluas orientasi dakwahnya dengan mengangkat persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan lingkungan.
Dengan demikian, dakwah Islam tidak hanya disampaikan dalam bentuk ceramah normatif, tetapi juga diwujudkan melalui gerakan nyata untuk menjaga lingkungan. Ekoteologi diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademik, melainkan menjadi bagian dari perilaku dan kehidupan sehari-hari para mahasantri.
Seminar tersebut ditutup dengan penegasan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Menjaga alam berarti menjaga amanah Allah Swt., menjalankan fungsi kekhalifahan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat hubungan akademik dan kelembagaan antara Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Ma’had Aly As’adiyah Sengkang dalam pengembangan pendidikan Islam yang responsif terhadap tantangan ekologis dan perkembangan masyarakat kontemporer.